Kamis, 07 Juni 2012

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM DALAM BIDANG SASTRA


INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM DALAM BIDANG SASTRA


I. PENDAHULUAN
            Sastra sebagai istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yang meliputi teori sastra ( membicarakan pengertian-pengertian dasar tentang sastra, unsur-unsur yang membentuk suatu karya sastra, jenis-jenis sastra dan perkembangan pemikiran sastra ), sejarah sastra ( membicarakan dinamika tentang sastra, pertumbuhan atau perkembangan suatu karya sastra, tokoh-tokoh dan cirri-ciri dari masing-masing tahap perkembangan suatu karya sastra).
            Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, berasal dari akar kata ‘sas’, yang dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/intruksi’. Akhiran ‘tra’ menunjuk pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan ‘su’ ( menjadi susastra ). Su artinya ‘baik’, indah, sehingga istilah susastra berarti pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah.[1]
            Sebagai bahan dasar sastra (kesusasteraan) adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kesusasteraan memang berbeda dengan bahasa keilmuan maupun bahasa yang digunakan sehari-hari. Bentuk karya sastra juga ada beberapa macam, meliputi; (1) Karya sastra yang berbentuk prosa, (2) karya sastra yang berbentuk puisi dan (3) karya sastra yang berbentuk drama.
            Ada kesustraan yang mempunyai sifat tersendiri, disebut suluk, yaitu kitab-kitab yang berisis ajaran tasawuf yang bersifat panteisme (manusia bersatu dengan Tuhan). Juga ada primbon, yaitu kitab bercorak kegaiban dan berisi ramalan-ramalan, penentuan-penentuan hari baik dan buruk, serta pemberian-pemberian makna kepada suatu kejadian. Diantara kitab suluk banyak yang tidak mempunyai judul dan tidak diketahui nama kitabnya dan nama pengarangnya. Di Sumatera dikenal berbagai syair yang tidak berjudul tetapi diketahui penulisnya, yaitu Hamzah Fansuri dan Barus.[2]

Bicara mengenai sastra tidak lepas dari fungsi dan sifatnya. Karya sastra lebih berfungsi untuk menghibur dan sekaligus memberi pengajaran sesuatu terhadap manusia. Sastra juga berfungsi untuk mengungkapkan adanya nilai keindahan (yang indah), nilai manfaat (berguna), dan mengandung nilai moralitas (pesan moral).[3]
            Istilah sastra Jawa secara praktis diartikan sebagai suatu  bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini memiliki elemen-elemen amat majemuk yang berakar pada etika, agama-agama yang berkembang dalam masyarakat Jawa.[4]

II. RUMUSAN MASALAH
            Agar pembahasan makalah mengenai interelasi nilai Jawa dan Islam dalam bidang sastra dapat lebih terarah, kami menitik beratkan pembahasan ini, sebagai berikut:
a). Perkembangan sastra pada masa Hindu, Budha.
b). Perkembangan sastra hasil interelasi Islam dan Jawa.
c). Perkembangan sastra pada masa Demak, Pajang dan Mataram.

III. TUJUAN
            Telah diuraikan sebelumnya mengenai rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini. Oleh karena itu pembahasan makalah ini bertujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan diatas agar dapat dipahami lebih jauh sesuai dengan rumusan masalah diatas oleh pembaca.
IV. PEMBAHASAN
A. Perkembangan Sastra pada masa Hindu Budha
            Karya sastra yang berbentuk puisi merupakan karya sastra yang paling tua di Indonesia. Tidak hanya di Nusantara, juga di Jawa karya sastra yang paling tua adalah puisi (lama) yang lazim disebut mantra. Setelah itu muncul parikan dan syair/wangsalan, yang di Jawa dikenal dengan ‘macapat’.
Mantra dipakai untuk berhubungan dengan religiositas manusia, terutama dalam berhubungan dengan hal-hal yang gaib/supranatural (termasuk Tuhan). Mantra ini dibuat untuk mempermudah manusia berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Agar seseorang mudah dalam melaksanakan permohonannya kepada Tuhan, maka diucapkan mantra-mantra.[5]
            Mantra-mantra ini dianggap mengandung daya sakral/daya linuwih, sehingga tidak sembarangan orang dapat mengucapkannya. Hanya orang-orang tertentu (terpilih karena memiliki daya linuwih) sajalah yang diperbolehkan mengucapkannya, seperti seorang dukun, ‘orang pintar’ (memiliki daya linuwih), dan sebagainya. Pengucapan mantra biasanya dibarengi dengan upacara ritual dengan sesaji dan dengan sikap tertentu yang menunjukan sikap hormat terhadap sasaran permohonan (Tuhan) atau makhluk ghaib lainnya. Pengucapan mantra yang dibarengi dengan sikap tertentu dan dengan upacara ritual, dan sesaji akan mendatangkan kekuatan gaib.
            Mantra mengandung kekuatan bukan hanya dari struktur kata-katanya, tetapi terlebih dari struktur batinnya. Jika dilihat dari sifat sakralnya, maka hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memiliki hak mewarisi kepandaian bermantra sekaligus dapat memiliki dan menggunakannya.[6]
            Setiap tradisi di setiap suku bangsa Indonesia memiliki konsep bagaimana orang berhubungan dengan hal-hal yang gaib (suprantural) seperti mantra. Mantra pada prinsipnya untuk permohonan, baik permohonan yang mengandung (niat/kehendak) positif maupun negatif. Mantra untuk keperluan kebaikan (nilai positif) seperti mantra (ilmu) pengasihan, permohonan agar turun hujan, dan sebagainya. Mantra untuk keperluan jahat (nilai negatif) seperti mantra untuk menjalankan pencurian, ilmu untuk mencederai seseorang dengan santet, tenung, teluh dan sebagainya.
            Selain mantra, karya sastra yang berbentuk puisi yang dikenal di Indonesia adalah pantun dan syair. Jenis-jenis puisi lama lainnya adalah gurindam, talibun, tersina dan sebagainya yang memiliki struktur yang prinsip-prinsipnya sama dengan struktur pantun dan syair. Dalam tradisi budaya Jawa, karya sastra yang menyerupai pantun dan syair adalah parikan dan wangsalan. Parikan merupakan puisi berupa pantun model Jawa, yang hanya ada saran bunyi pada dua baris yang lazim disebut sampiran. Sementara itu, wangsalan berupa: dua baris pertama tidak hanya merupakan saran bunyi, tetapi merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isinya. Wangsalan sendiri memiliki banyak macamnya, diantaranya yaitu yang menjadi satu  dalam sebuah tembang. Contohnya wangsalan :
Jamang wakul Kamandaka, kawengku ing jinem wangi,
kayu malang munggeng wangan, sun wota sabudineki,
roning kacang wak mami, yen tan panggih sira nglayung,
toya mijil sing wiyat, roning pisang leash ing wit,
edanira tan waras dening usada.
Sedangkan untuk parikan contohnya adalah :
Tjengkir wungu, wungune ketiban ndaru.
Wis pestimu, kowe pisah karo aku
Karya sastra yang dikenal dengan puisi jawa (kuno,tengahan dan baru) sesuai dengan matremumnya,puisi jawa ini meliputi:
1.      Tembang gede atau sekar ageng,dengan metrum india dan bahasa yang digunakan bahasa jawa kuno.
2.      Tembang tengahan atau sekar tengahan,dengan metrum india dan local jawa kuno dan menggunakan bahasa jawa tengahan.
3.      Tembang cilik atau sekar alit atau tembang macapat,dengan metrum islam dan bahasa jawa baru.
B. Perkembangan Sastra Hasil Interrelasi Islam dan Jawa
            Maksud keterkaitan antara Islam dengan karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperative moral atau mewarnai. Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra Jawa baru, sedangkan puisi (tembang/sekar macapat) dipakai untuk sarana memberikan berbagai petunjuk/nasehat yang secara subtansial merupakan petunjuk/nasehat yang bersumber pada ajaran Islam.
            Hal ini terjadi karena para pujangga tersebut jelas beragama Islam. Kualitas keislaman para pujangga saat ini tentunya berbeda dengan kualitas saat sekarang ini. Jadi, para pembaca seharusnya menyadari bahwa pengetahuan ajaran Islam saat itu (abad 18-19) belum sebanyak seperti sekarang ini, sehingga dalam menyampaikan petunjuk/nasehat para pujangga melengkapi diri dari kekurangannya mengenai pengetahuan ke-islaman dengan mengambil hal-hal yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya, munculnya tembang/sekar macapat ini berbarengan dengan munculnya Islam di Jawa, yaitu setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang hindu.
            Dengan kata lain, Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra para pujangga keraton Surakarta sehingga semua karya-karya sastranya itu berupa puisi yang berbentuk tembang/sekar Macapat. Istilah interelasi Islam dengan karya sastra Jawa, artinya Islam di-Jawakan, sedangkan Jawa di-Islamkan. Walaupun demikian warna Islam terlihat sekali dalam substansinya, yaitu:
1. Unsur ketauhidan (upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa)
2. Unsur kebajikan (upaya memberikan petunjuk atau nasihat kepada siapapun) petunjuk agar berbuat kebajikan dan petunjuk untuk tidak berbuat tercela.[7]
            Maksud dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperative moral. Artinya, keterkaitan itu menunjukkan warna keseluruhan/corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut. Karya-karya sastra Jawa adalah karya sastra para pujangga keraton Surakarta yang hidup pada zaman periode Jawa baru yang memiliki metrum Islam. Memiliki corak jihad, masalah ketauhidan, moral/perilaku yang baik dan sebagainya.
Adapun karya-karya sastra pujangga yang baru menggunakan puisi jawa baru
a.       Karya sastra Sri Mangkunegara IV (serat-serat piwulang)
§  Serat Warayagnya,memakai tembang dandanggula,berisi 10 bait
§  Serat Wirawiyata,memakai tembang sinom,tembang pangkur,berisi 14 bait
§  Serat SRiyatna,memakai tembang dandanggula,berisi 15 bait
§  Serat Nayakawara,memakai tembang pangkur (21 bait),dandanggula (12 bait)
§  Serat Paliatma,memakai tembang dandanggula berisi 18 bait
§  Serat Paliwara,memakai tembang dandanggula berisi 6 bait,tembang sinom berisi 7 bait
§  Serat Paliwarma,memakai tembang mijil berisi 11 bait,tembang pucung berisi 11 bait.
§  Serat Salokatama,memakai tembang mijil berisi 31 bait
§  Serat Drmalakasita,memakai tembang dandanggula berisi 12 bait dan tembang kinanti berisi 10 bait,tembang mijil berisi 18 bait
§  Serat Triparma,memakai tembang dandanggula berisi 7 bait
§  Serat Yogatama,memakai tembang dandanggula berisi 7 bait,tembang kinanti berisi 7 bait
§  Serat whedatama,memakai tembang pucung berisi 15 bait,gambuh berisi 25 bait,pangkur berisi 14 bait dan sinom berisi 18 bait
b.      Karya-karya R. Ngb. Ranggawarsito (tak terkenal)
§  Serat Kalatidha,memakai tembang sinom berisi 12 bait
§  Serat Sabdjati,memakai tembang megatruh berisi 19 bait
§  Serat Sandatama,memakai tembang gambuh berisi 22 bait
§  Serat Wedharaga,memakai tembang gambuh berisi 38 bait
c.       Karya sastra Susuhan Pakubuwana IV
Serat Wulangreh,yang memakai tembang-tembang Dhandanggula berisi 8 bait,Kinanthi berisi 16 bait,Gambuh berisi 17 bait,Pangkur berisi 17 bait,Maskumambang berisi 34 bait,Megatruh berisi 17 bait,Durma berisi 12 bait,Wirangrong berisi 27 bait,Pucung berisi 23 bait,Asmaradana berisi 28 bait,Sinom berisi 33 bait dan Girisa berisi 12 bait.
                  C. Perkembangan Sastra Pada Masa Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram
1. Pada zaman hindu ( Sebelum zaman Majapahit )
            Nama pujangga dan hasil karyanya pada periode ini misalanya Resi Adiyasa dengan karyanya Mahabarata, Empu Kanwa dengan Arjunawiwaha dan Empu Tan Akkung dengan Karyanya Lubdaka.
2. Pada Zaman Majapahit
            Nama pujangga pada periode ini misalnya Empu Prapanca dengan karyanya Nagarakertagama dan Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.
3. Pada Zaman Islam ( Zaman Demak Dan Pajang )
        Sastra pada masa Kerajaan Pajang memiliki identitas yang khas, yakni budaya yang bercorak ortodoks jika dibandingkan dengan budaya yang ada di dalam pedalaman, yang dalam banyak hal masih kental bercampur dengan elemen-elemen Hinduisme. Hal ini tampak dari karya sastra yang dihasilkan oleh ulama yang di samping posisinya sebagai juru dakwah juga membuat karya tulis. Sastra ini juga memiliki kaitan erat dengan proses perkembangan kehidupan keagamaan karena pada dasarnya kehidupan sehari-hari masyarakat tak dapat dilepaskan dari kerangka agama.[8]
            Nama pujangga pada periode ini misalnya Sunan Bonang dengan karyanya Suluk Wijil, Sunan Panggung dengan karyanya Malangsumirang dan Pangeran Karanggayam dengan karyanya Nitisruti.
d) Pada Zaman Mataram
            Nama pujangga pada periode ini misalnya Sultan Agung dengan karyanya Sastra Gending, Pangeran Adilangu dengan karyanya Babad Majapahit, Sunan Pakubuwan V dengan karyanya Serat Centhini, dan R. Ng Renggawarsita dengan karyanya Sabdajati.
e) Pada Zaman Sekarang ( Mulai Abad XX )
            Nama pujangga pada periode ini misalnya Ki Padmasusastra dengan karyanya Tatacara, R. M. Sulardi dengan karyanya Sera Riyanta dan M. Sukir dengan karyanya Abimanyu Kerem.[9]
            Proses islamisasi yang mulai masuk kepedalaman, maka terjadi pula proses islamisasi sastra pedalaman yang semula bercorak hindu sentries menjadi berbau keisalaman, meskipun pada akhirnya coraknya merupakan perpaduan antara ajasan Islam dengan elemen-elemen mistik yang juga berlaku dikalangan Hindu. Ajaran-ajaran budi luhur yang terdapat dalam sastra Jawa kemudian mengkristal menjadi suatu pandangan hidup kejawen yang bercorak sinkretis, dengan penampilan yang lebih menekankan pada substansi ajaran mistik.
V. KESIMPULAN
            Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwasannya interelasi nilai jawa dan Islam dalam bidang sastra bisa kita lihat pada isi kesustraan. Seperti yang telah dipaparkan bahwa para pujangga yang jelas beragama Islam memiliki kualitas keislaman yang berbeda dengan para pujangga saat ini. Sehingga dalam menyampaikan petunjuk/nasehat para pujangga melengkapi diri dari kekurangannya mengenai pengetahuan ke-islaman dengan mengambil hal-hal yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya, munculnya tembang/sekar macapat ini berbarengan dengan munculnya Islam di Jawa, yaitu setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang hindu.
VI. PENUTUP
            Kesimpulan diatas sekaligus menutup pembahasan makalah ini. Saran kami, sebagai mahasiswa sepatutnya kita mampu mempertahankan kesustraan Jawa yang telah berkembang seperti sekarang ini. Juga menghargai hasil karya-karya para pujangga terdahulu yang telah mampu memasukkan nilai-nilai ajaran Islam serta hal-hal yang tidak sepatutnya kita lakukan kedalam karya sastra tersebut, sehingga Islam pun mampu berkembang sedemikian rupa.






DAFTAR PUSTAKA
Amin, M. Darori. 2000. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.
Sunanto, Musyrifah. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT  Raja Grafindo Persada.
Tajdrasasmita, Dr. H. Uka. 2006. Kajian Naskah-Naskah Klasik, Jakarta: Puslitbang Lektur          Keagamaan Badan Litbang dan Diklat DEPAG RI.


[1] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media. 2000). hal. 139
[2] Musyrifah Sunanto. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2005). Hal. 98-100.
[3] Uka Tjadrasasmita, Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam, Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat DEPAG RI, Jakarta, 2006, hal. 61.
[4] M. Darori Amin. op. cit. Hal. 157
[5] Ibid. Hal. 144.
[6] Ibid. Hal. 145.
[7]Ibid. Hal. 146-148
[8] Ibid. hal. 162.
[9] Padmosoekotjo.  Ngengrengan Kasusastraan Djawa. (Jogjakarta: Hien Hoo Sing. 1960). Hal. 115–117

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar