Kamis, 07 Juni 2012

KEADAAN ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA DAN JEPANG


KEADAAN ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA DAN JEPANG

I. PENDAHULUAN
            Didalam dunia ini jika dibandingkan dengan Negara Negara lain Indonesia merupakan salah satu Negara yang dihuni oleh umat islam yang cukup besar setelah Arab Saudi. Hal itu tentunya tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui proses yang panjang, juga melalui jasa para da’i, mubaligh, ulama dan pemimpin dibidang masing-masing.
            Selain itu, perkembangan Agama Islam di Indonesia juga tidak luput dari penjajahan Negara-negara lain.Seperti halnya Belanda dan Jepang yang menjajah Indonesia pada saat Islam sedang berkembang di Negara kita.
II. RUMUSAN MASALAH
 1. Masa Penjajahan Belanda
a). Latar Belakang Kedatangan Belanda di Indonesia
b). Situasi dan Kondisi Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia pada Zaman Penjajahan Belanda
c). Usaha-Usaha Pemerintah Belanda untuk Menghancurkan Ummat Islam di Indonesia
d). Perlawanan terhadap Penjajah Belanda
 2. Masa Penjajahan Jepang
     a). Latar Belakang serta Kebijakan Pemerintah Jepang kepada umat Islam di Indonesia
b). Situasi dan Kondisi Umat Islam di Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang

III.TUJUAN
            Telah diuraikan sebelumnya mengenai permasalahan-permasalahan yang menyangkut sejarah peradaban Islam pada masa penjajahan di Indonesia. Oleh karena itu, makalah ini kami susun dengan tujuan untuk memaparkan permasalahan-permasalahan diatas. Sehingga pembaca mampu memahami dan mengerti lebih dalam tentang sejarah peradaban Islam di Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

IV. PEMBAHASAN
1. Masa Penjajahan Belanda
  A. Latar Belakang Kedatangan Belanda di Indonesia
            Penaklukan Belanda atas Indonesia dimulai dalam bidang pengembangan usaha perdagangan, kemudian dengan kekuatan militer. Kedatangan mereka yang dilatar belakangi oleh keinginan mereka untuk memperoleh rempah-rempah di Indonesia memang membawa kemajuan teknologi, tetapi tujuan sebenarnya adalah ingin meningkatkan penjajahan. Begitu pula dalam bidang pendidikan, Belanda tak hanya memperkenalkan system dan metode baru, tetapi juga untyuk menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan  mereka dengan upah yang ringan. Apa yang mereka sebut dengan pembaharuan pendidikan sebenarnya adalah westernisasi dan Kristenisasi.
            Selain ingin memperoleh rempah-rempah di Indonesia, Belanda juga ingin menjajah dan menguasai Indonesia. (Musyrifah Sunanto, Hal. 118)
  B. Situasi dan Kondisi Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia pada Zaman Penjajahan Belanda
            Keadaan kerajaan-kerajaan Islam menjelang datangnya Belanda diakhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia berbeda-beda, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik, tetapi juga proses ke-Islamisasinya. Di Sumatera penduduk sudah mulahi beragama Islam sekitar tiga abad, sementara di Maluku dan Sulawesi proses Islamisasi baru saja berlangsung.
            Setelah berhasil menguasai daerah-daerah di Sumatera bagian utara, Aceh berusaha menguasai Jambi, pelabuhan pengekspor lada yang banyak dihasilkan didaerah-daerah pedalaman yang ketika itu sudah Islam juga merupakan pelabuhan transito.
            Ketika itu Aceh memang sedang berada pada masa kejayaannya dibawah Sultan Iskandar Muda. Iskandar muda wafat dalam usia 46 tahun pada 27 Desember 1636. Ia digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani. Sultan ini masih mampu mempertahankan  kebesaran Aceh. Akan tetapi setelah ia meninggal dunia, 15 Februari 1641, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun. ketika itulah, Aceh mulai mengalami kemunduran. Daerah-daerah di Sumatera yang berada dibawah kekuasaannya mulai memerdekakan diri.
            Meski sudah jauh menurun, Aceh masih bertahan lama menikmati kedaulatannya dari interversi kekuasaan asing. Padahal kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti Minangkabau, Jambi, Riau dan Palembang tidak demikian.
            Di jawa pusat kerajaan Islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman, yaitu dari Demak ke Pajang kemudian ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah Islam di Jawa, diantaranya adalah:
  1).      Kekuasaan dan system politik didasarkan atas basis agraris
  2).      Peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga peranan    pedagang dan pelayar Jawa
  3).      Terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke-17 dengan segala akibatnya.
            Pada tahun 1619, seluruh Jawa Timur sudah berada dibawah kekuasaan Mataram, yang ketika itu dibawah Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung inilah, kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dengan VOC mulai terjadi.
            Meskipun ekspansi Mataram telah menghancurkan kota-kota pesisir dan mengakibatkan perdagangan setengahnya menjadi lumpuh, namun sebagai penghasil utama dan pengekspor beras, posisi Mataram dalam jaringan perdagangan di Nusantara masih berpengaruh.
  C. Usaha-Usaha Pemerintah Belanda untuk Menghancurkan Ummat Islam di Indonesia
            Setelah mengalami kegagalan atau merasa kurang berhasil dengan melakukan misi penjajahan dengan kekerasan kontak fisik, maka pemerintah Belanda kemudian membuat dan mengatur strategi baru dalam usahanya menaklukkan rakyat Indonesia.  Konsep De Islamisasi Belanda pada awal abad ke XX M, antara lain dilakukan dan disebarkan dalam bentuk dan berbagai cara antara lain sebagai berikut:
  1. Menghancurkan Al-Qur’an dan melenyapkannya agar terjadi pendangkalan aqidah dikalangan umat Islam Indonesia.
  2. Menghancurkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin serta memecah belah mereka dengan mengadu domba. Terutama antara ulama dengna pemanngku adat, sehingga mereka tidak bersatu lagi dan tidak ada kekuatan untuk melawan Belanda.
  3. Menghancurkan akhlaq dan akal pikiran kaum muslimin dengan jalan merusak kaum wanitanya, menyebarkan kebejatan seksual, minum-minuman keras dan mendorong pengumbaran hawa nafsu yang menyebabkan rusaknya hubunngan dan kewajiban untuk mengingat Allah. (Yahya Harun, hal.30-31).

  D. Perlawanan terhadap Penjajah Belanda
            Perlawanan Islam di Indonesia yang terbesar dan terlama terhadap penjajah Belanda diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Perang Paderi di Minangkabau
            Kelompok radikal ini mendapat kekuatan baru tahun 1803 ketika tiga ulama, Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota, dan Haji Piobang dari Lima Puluh Kota pulang dari Makkah. Mereka pulang dengan membawa semangat yang diilhami oleh gerakan Wahabi. Mereka melihat bahwa penduduk Minangkabau baru masuk Islam secara formal dan belum mengamalkan ajaran agama secara murni. Gerakan ulama-ulama itu bernama gerakan paderi. (Ismail Jakub, hal. 49).
            Sesampai dikampung masing-,masing, mereka mulai mengeluarkan fatwa-fatwa. Beberapa waktu kemudian mereka membentuk semacam “Dewan Revolusi” yang dikenal dengan nama “Harimau nan Salapan” yang artinya delapan harimau yang berani menantang kemaksiatan.
            Pada mulanya gerakan Paderi ini dilakukan melalui ceramah di masjid. Konflik terbuka dengan golongan penantang baru saat golongan Adat mengadakan pesta menyabung ayam di kampong Batabuh. Pesta maksiat itu diperangi oleh golongan Paderi. Sejak itulah perang antara kaum Paderi melawan kaum adat mulai berlangsung. Kaum adat kemudian meminta bantuan kepada pemerintah Belanda. Sejak itu bermulalah perang antara golongan Paderi yang didukung oleh rakyat melawan Pasukan Belanda yang didukunng persenjataan modern dan personil terlatih. Dalam peperangannya Belanda banyak mendapat kesulitan dan menderita kekalahan secara berulang-ulang. Mereka menggunakan siasat liciknya dengan cara berpura-pura meminta damai kemudian menyerang benteng Bonjol milik kaum Paderi secara mendadak setelah seminggu mereka membuat perjanjian damai. Akhirnya Bonjol pun mereka duduki.
            Walaupun Paderi kalah ditangan Belanda, gerakan ini berhassil memperkuat posisi agama, disamping adat, terjadi asimilasi doktrin agama kedalam adat Minangkabau sebagai pola perilaku ideal. (Badri Yatim, 2010)
  2. Perang Diponegoro
            Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Peristiwa yang memicu peperangan adalah rencana pemerintah Belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik Pangeran Diponegoro dan harus membongkar makam keramat. Patok-patok yang ditanam oleh pemerintah dicabut oleh pihak Diponegoro. Ia menuntut agar rencana pembuatan jalan itu dialihkan.
            Usaha pemerintah untuk menangkap Pangeran Diponegoro mampu digagalkan oleh masyarakat Tegalrejo. Dan Pangeran Diponegoro pun menggariskan maksud dan tujuan perlawanan terhadap Belanda. Maksud dan tujuan perang itu adalah:
  1. untuk mencapai cita-cita luhur mendirikan masyarakat yang bersendikan agama Islam
  2. mengembalikan keluhuran adat Jawa yang bersih dari pengaruh Barat.
            Pada tahun 1826, jalan perang menunjukan pasang surut. Banyak korban berguguran di pihak Belanda. Tahun 1827 Belanda memperkuat diri untuk mempersempit gerak tentara Pangeran Diponegoro. Belanda juga menganugerahkan bantuan dari negri Belanda sekitar 3000 orang.
            Pihak Pangeran Diponegoro mulai terdesak sedikit demi sedikit. Karena beliau tetap teguh pada pendiriannya akhirnya beliau ditahan kemudian dibuang ke Menado pada 3 Mei 1830. Pada tahun 1534 ia dipindahkan ke Ujung Pandang , Makassar. Dipengasingan terakhir inilah ia meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia kurang lebih 70 tahun. (Badri Yatim, hal.231-247).

2. Masa Penjajahan Jepang
  A. Latar Belakang serta Kebijakan Pemerintah Jepang terhadap Umat Islam di Indonesia
            Jepang menjajah Indonesia setelah mengusir pemerintah Belanda dalam perang dunia ke II. Mereka menguasai Indonesia pada tahun 1942.
            Pada babak pertama pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam, yang merupakan suatu siasat untuk kepentingan perang dunia ke II. Untuk mendekati umat Islam Indonesia mereka menempuh jalan antara lain:
  a). Kantor Urusan Agama yang pada zaman Belanda disebut Kantoor Voor Islamistische Saken yang  dipimpin oleh orang-orang Orientalisten Belanda, dirubah oleh Jepang menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri yaitu KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang dan dibentuk Sumuka.
  b). Pondok Pesantren yang besar-besar sering mendapatkan kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
  c).  Sekolah Negeri diberi  pelajaran budipekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
  d). Disamping itu pmerintah Jepang mengizinkan pembentukan barisan Hisbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam. Barisan ini dipimpin oleh  KH. Zainul Arifin.
  e). Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim Asy’ari, Kahar Muzakir dan Bung Hatta. (Musyrifah Sunanto, hal 124-125)
            Hal yang melatarbelakangi pemerintah Jepang memutuskan kebijakan-kebijakan tersebut adalah supaya kekuatan umat Islam dan nasionalis dapat dibina untuk kepentingan oerang di Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang.
  B. Situasi dan Kondisi serta Pemberontakan Umat Islam di Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang
            Dari segi militer dan politik Jepang menampakkan diri sebagai penjajah yang sewenang-wenang dan lebih kasar daripada penjajah Belanda. Kekayaan bumi Indonesia dikumpulkan secara paksa untuk membiayai perang Asia Timur Raya. Sehingga rakyat menderita kelaparan dan hamper telanjang karena kekurangan pakaian. Disamping itu rakyat juga dikerahkan untuk kerja keras (romusha) untuk kepentingan perang.
            Dalam aksinya gencatan Jepang pada Indonesia sangatlah membuat penderitaan rakyat lahir dan batin makin tak tertahankan lagi. Maka timbulah pemberontakan-pemberontakan dari para alim ulama. Banyak para kyai yang ditangkap kemudian dipenjarakan oleh Jepang. Kondisi tersebut secara umum membuat dunia pendidikan di Indonesia terbengkalai, karena murid-murid sekolah tiap harinya hanya disuruh gerak badan, baris-berbaris, bekerja bakti, dan lain sebagainya. Yang masih beruntung adalah madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung pemerintah Jepang. (Muhamad Kasiran, hal.150-151).








V. KESIMPULAN
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwasannya peradaban Islam di Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang mengalami pasang surut. Umat muslim di Indonesia khususnya para pemuka agama pun tak hanya tinggal diam, mereka turut berjuang dengan segala kemampuan yang mereka punya demi mempertahankan aqidah mereka. Hingga Islam di Indonesia pun mampu bertahan dan berkembang sedemikian rupa.
VI. PENUTUP
            Kesimpulan diatas sekaligus menutup pembahasan makalah ini. Saran saya, sebagai mahasiswa sepatutnya kita mampu mengambil hikmah dari sejarah peradaban Islam dan juga tokoh-tokoh yang telah berjuang demi agama dan Negara. Selain itu kita juga perlu meneladani sifat-sifat beliau. Sehingga peradaban dunia pun semakin maju dengan didorong oleh generasi muda yang bisa diandalkan sehingga tercapailah cita-cita untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkwalitas.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Harun, Yahya. 1995. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.
Jakub, Ismail. 1972. Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Widjaya Djakarta.
Kasiram, Muhammad. dkk. 1986. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta.
Sunanto, Musyrifah. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar